Pendidikan Ketahanan Keluarga Untuk Menumbuhkan Daya Saing Bangsa

Oleh: Robi Kurnia, SE.I

Guru SMKN 11 Kab. Tangerang

Hampir semua kalangan masyarakat kita sepakat bahwa pendidikan merupakan satu unsur yang memiliki kapasitas urgensitas yang kuat dan besar dalam membangun dan mengembangkan kualitas masyarakat dan kondisi bangsa. Pendidikan juga sangat diperlukan untuk mencerdaskan anak bangsa agar dapat memajukan bangsanya. Oleh sebab itu dalam menyelenggarakan pendidikan memerlukan suatu kesatuan yang mengaturnya.

      Program pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan yang selama ini menjadi fokus pembinaan masih menjadi masalah menonjol dalam dunia pendidikan di Indonesia salah satunya masalah internal yg mendasar dan bersifat komplek, selain itu pula bangsa Indonesia masih menghadapi sejumlah problematika yang sifatnya berantai dimulai dari jenjang pendidikan mendasar sampai pendidikan tinggi. Masih adanya tawuran pelajar, pergaulan bebas, seks bebas, narkoba, dan pelecehan seksual pada anak-anak, membuat PR bagi pemerintah untuk dapat mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut.

Namun, kita tidak boleh berputus asa dan harus senantiasa berikhtiar untuk mengatasi masalah yang sangat kompleks tersebut. Pendidikan yang berperan penting harus ditanamkan sedini mungkin dalam keluarga agar bisa mencegah maslah-masalah tersebut dan dapat membangun sumber daya manusia yang ihsan serta berdaya saing tinggi, berwawasan ilmu pengetahuan dan tekhnologi,serta bermoral dan berbudaya.

Maka harus dibangunlah pendidikan dalam ketahanan keluar agar tercipta sumberdaya manusia yang memiliki daya saing bangsa yang baik.

Menurut Prof. H. Mahmud Yunus pendidikan adalah suatu usaha yang dengan sengaja dipilih untuk mempengaruhi dan membantu anak yang bertujuan untuk meningkatkan ilmu pengetahuan, jasmani dan akhlak sehingga secara perlahan bisa mengantarkan anak kepada tujuan dan cita-citanya yang paling tinggi. Agar memperoleh kehidupan yang bahagia dan apa yang dilakukannya dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri, masyarakat, bangsa, negara dan agamanya.

Menurut Martinus Jan Langeveld pendidikan adalah upaya menolong anak untuk dapat melakukan tugas hidupnya secara mandiri supaya dapat bertanggung jawab secara susila. Persamaaan dari pendapat para ahli di atas yaitu bahwa pendidikan akan mampu membuat peserta didik menjadi manusia yang bertanggung jawab dalam hidupnya. Perbedaanya yaitu menurut Prof. H. Mahmud Yunus bahwa pendidikan secara perlahan akan mengantarkan peserta didik kepada cita-cita yang diinginkan sedangkan menurut  Martinus Jan Langeveld  pendidikan memfokuskan tentang kemandirian anak.

Pendidikan Keluarga

Didalam keluarga anak akan memperoleh pengarahan orang tua tentang apa yang seharusnya tidak dilakukan. Nilai-nilai kebudayaan yang diterimaanak dalam keluarga akan membekalinya dalam hidup bermasyarakat.Seorang anak yang hidup di lingkungan masyarakat yang sangatmenghargai kedudukan orang tua, sejak kecil sudah diperkenalkan bagaimana ia harus menghormati orang tua. Nilai-nilai kebudayaan iniantara lain meliputi: nilai-nilai sopan santun, nilai-nilai pergaulan, nilainilai kebebasan yang berlaku, harapan masyarakat, kebiasaan, keadilan dansebagainya. Nilai kebudayaan yang akan diajarkan oleh orang tua adalah nilai kebudayaan yang berlaku di masyarakat dimana dia berada, karena setiap masyarakat memiliki nilai-nilai kebudayaan yang berbeda-beda. Dariitu anak akan mengidentifikasikan dirinya dengan orang tuanya, temansebayanya serta dengan anggota masyarakat sekitarnya. Apa yang diajarkan oleh orang tua akan tercermin dalam tingkah laku anak seharihari.

Menjadi orang tua, selain berkewajiban menghadirkan perjuangan penuh waktu, penuh tantangan, dan ujian-ujian yang berlangsung sepanjang hidup orang tua, mereka tidak peduli berapapun usia anaknya. Di samping itu anak juga menawarkan kepada mereka sejumlah penghargaan. Penghargaan-penghargaan yang juga berlangsung sepanjang hidup mereka. Memiliki anak yang sukses merupakan sebuah petualangan, penuh dengan kejutan-kejutan dan perubahan-perubahan.

Peran Pendidikan Keluarga Untuk Membangun Daya Saing Bangsa

Kehidupan manusia dalam berprilaku (taklif) terikat oleh hukum Tuhan. Ketentuan hal ini tidak terlepas dari norma atau kaidah yang ditetapkan. Namun, kebutuhan sosial masyarakat tidak selamanya termaktub di dalam titah Tuhan ataupun rasul-Nya secara eksplisit. Oleh karena itu, diperlukan suatu usaha untuk memahami Al Qur’an dan Sunnah yang kemudian disebut ijtihad; dan produk ijtihadnya disebut fikih.

Fikih keluarga secara etimologi disebut juga dengan Al Ahwal Asy Syakshiyyah. Fikih inimerupakan grand design dari konsep keluarga ideal untuk mewujudkan ketahanan keluarga menurut pandangan Islam. Al Qur’an telah menegaskan bahwa, pembentukan jalinan keluarga dimaksudkan sebagai upaya (1) memelihara kehormatan diri (hifzh al-nafs) agar mereka tidak terjerumus ke dalam perbuatan terlarang, (2) memelihara kelangsungan kehidupan manusia/keturunan (hifz al-nasl) yang sehat, (3) mendirikan kehidupan rumah tangga yang dipenuhi kasih sayang antara suami dan istri dan saling membantu antara keduanya untuk kemaslahatan bersama.

Terwujudnya ketahanan keluarga seyogyanya tidak lepas dari beberapa faktor yang mempengaruhinya. Diantara faktor-faktor tersebut adalah upaya membentuk kepribadian anggota keluarga yang syarat dengan nilai atau norm, nilai atau norma harus bisa dipertanggung jawabkan dan hal tersebut harus bersumber dari Al-Qur’an dan Assunah-Nya. Hal itu penting disegerakan mengingat nilai atau norma adalah stimulan dalam pembentukan konsep diri. Dengan demikian, upaya tersebut harus berangkat melalui proses pembudayaan serta pemberdayaan mulai dari tingkat keluarga hingga masyarakat.

Faktor lain yang mempengaruhi ketahanan keluarga adalah keluwesan dalam berbagi peran. Ibarat pementasan teater, alur cerita tidak akan berjalan lancar ketika setiap aktor tidak menjalani perannya dengan baik dan benar. Semuanya tentu harus dilakukan secara berimbang. Pemenuhan hak dan kewajiban ditopang atas dasar amanah dan tanggung jawab. Ketika tawaran di atas dapat diterapkan secara optimal, pewacanaan kehidupan konsep keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah tentu akan mudah terealisasikan. Serupa dengan apa yang pernah diajarkan Rasulullah dalam sunahnya, bahwa Rasulullah meletakkan standar indikasi kesuksesan dunia dan akhirat adalah dengan meraih trust, competence dan responsibility.

Selain daripada hal di atas ketahanan keluarga juga harus ditopang dengan kondisi ekonomi yang baik dan stabil untuk mengantarkan kepada pertanggung jawaban pendidikan terhadap keluarga agar berjalan lancar dan bisa mencapai tujuan yang dikehandaki. Mengapa faktor ekonomi ini sebagai ketahanan keluarga karena dengan adanya ekonomi yang baik dan stabil proses pendidikan akan bisa dicapai dengan baik pula tanpa adanya hal-hal yang menghalangi dari pendanaan dalam proses pendidikan. Sengga, orang tua bisa memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak-anaknya.

Sumber Bacaan:

  • Ali Rohmad, Kapita Selekta Pendidikan, (Jakarta: Bina Ilmu, 2004), hlm. 190.
  • Hasan Bisri, Cik, Pilar-pilar Penelitian Hukum Islam dan Pranata Sosial, Jakarta:
  • PT. RajaGrafindo Persada, 2004
  • Hasbullah.,2005.dasar-dasar ilmu pendidikan.jakarta:PT.Raja Grafindo Persada.
  • Herimanto dan winarmo, Ilmu sosial & budaya dasar, Jakarta: Bumi Aksara, 2010